Perilaku Normal dan Abnormal
Konsep
normal dan Abnormal
1. Menurut Supratiknya (1995)
merumuskan konsep normal dan abnormal agak susah dikarenakan Sulit menemukan model manusia yang
ideal dan sempurna.
2. Dalam banyak kasus tidak adanya batas-batas
yang jelas antara perilaku normal dan abnormal.
Normal dan abnormal perlu
dipertimbangkan dari berbagai aspek dan pendekatan. Profesor Suprapti Sumarno
(1976), ada dua pendekatan dalam membuat pedoman tentang normalitas:
1. Pendekatan Kuantitatif
Pendekatan yang didasarkan atas patokan statistik dengan melihat pada sering atau tidaknya sesuatu terjadi dan acapkali berdasarkan perhitungan maupun pikiran awam.
Misal, perilaku makan sepuluh kali dalam sehari.
2. Pendekatan Kualitatif
Pendekatan yang didasarkan observasi empirik pada tipe-tipe ideal dan sering terikat pada faktor sosial kultural setempat.
Misal, perilaku menangis berlebihan hingga menjerit-jerit pada mereka yang sedang mengalami kehilangan seseorang di suatu lingkungan budaya.
1. Pendekatan Kuantitatif
Pendekatan yang didasarkan atas patokan statistik dengan melihat pada sering atau tidaknya sesuatu terjadi dan acapkali berdasarkan perhitungan maupun pikiran awam.
Misal, perilaku makan sepuluh kali dalam sehari.
2. Pendekatan Kualitatif
Pendekatan yang didasarkan observasi empirik pada tipe-tipe ideal dan sering terikat pada faktor sosial kultural setempat.
Misal, perilaku menangis berlebihan hingga menjerit-jerit pada mereka yang sedang mengalami kehilangan seseorang di suatu lingkungan budaya.
Berikut pengertian keadaan normal secara konseptual :
1. Sehat adalah keadaan berupa
kesejahteraan fisik, mental, dan sosial secara penuh dan bukan semata-mata
berupa absennya atau keadaan lemah tertentu (World Health Organization-WHO)
- Karl Meninger, seorang psikiater, memberikan rumusan sebagai berikut "kesehatan mental adalah penyesuaian manusia terhadap dunia dan satu sama lain dengan keefektifan dan kebahagiaan yang maksimum. Ia bukan hanya berupa efisiensi atau hanya perasaan puas atau keluwesan dalam mematuhi aturan permainan dengan riang hati. Kesehatan mental mencakup itu semua. kesehatan mental meliputi kemampuan menahan diri, menunjukkan kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain dan sikap hidup yang bahagia."
- H.B. English, seorang psikolog, memberikan rumusan sebagai berikut: "kesehatan mental adalah keadaan yang relatif tetap di mana sang pribadi menunjukkan penyesuaian atau mengalami aktualisasi diri. kesehatan mental merupakan keadaan positif bukan sekedar absennya gangguan mental"
- W.W. Boehm, seorang pekerja sosial, memberikan suatu pengertian "kesehatan mental meliputi suatu keadaan dan taraf keterlibatan sosial yang diterima oleh orang lain dan memberikan kepuasan bagi orang yang bersangkutan."
Dari
keempat rumusan tersebut menekankan normalitas sebagai keadaan sehat yang
secara umum ditandai dengan keefektifan dan penyesuaian diri yaitu menjalankan
kewajiban serta tuntutan hidup sehari-hari sehingga menimbulkan perasaan puas
dan bahagia.
Beberapa ciri orang yang Sehat-Normal
Maslow dan
Mittelmann menyatakan bahwa pribadi yang normal dengan jiwa yang sehat
ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut.
a.
Memiliki rasa aman yang tepat (sense of security)
b. Memiliki penilaian
diri (self evaluation) dan wawasan (insight) yang rasional.
c. Memiliki
spontanitas dan emosional yang tepat.
d. Memiliki kontak
dengan realitas secara efisien.
e. Memiliki
dorongan-dorongan dan nafsu-nafsu yang sehat.
f. Memiliki
pengetahuan mengenai dirinya secara objektif.
g. Memiliki tujuan hidup yang
adekuat, tujuan hidup yang realistis, yang didukung oleh potensi.
h. Mampu belajar dari
pengalaman hidupnya.
i. Sanggup untuk
memenuhi tuntutan-tuntutan kelompoknya.
j. Ada sikap
emansipasi yang sehat pada kelompoknya.
k. Kepribadiannya
terintegrasi
Kriteria Pribadi yang normal menurut W.F. Maramis.
Menurut Maramis,
terdapat enam kelompok sifat yang dapat dipakai untuk menentukan ciri-ciri
pribadi yang Sehat-Normal, adalah sebagai berikut :
1. Defini Abnormal
Abnormal artinya
menyimpang dari yang normal. Manusia merupakan makhluk multi dimensional.
Manusia merupakan makhluk biologis, makhluk individu, makhluk sosial, makhluk
etis, dst, sehingga perilaku manusia dapat dijelaskan dari dimensi-dimensi
tersebut, begitu juga bila berbicara mengenai abnormalitas jiwa.
2. Kriteria Abnormal
a. Abnormalitas menurut Konsepsi Statistik
Secara statistik suatu
gejala dinyatakan sebagai abnormal bila menyimpang dari mayoritas. Dengan
demikian seorang yang jenius sama- sama abnormalnya dengan seorang idiot, seorang
yang jujur menjadi abnormal diantara komunitas orang yang tidak jujur.
b. Abnormal
menurut Konsepsi Patologis
Berdasarkan konsepsi ini
tingkah laku individu dinyatakan tidak normal bila terdapat simptom-simptom
(tanda-tanda) klinis tertentu, misalnya ilusi, halusinasi, obsesi, fobia, dst.
Sebaliknya individu yang tingkah lakunya tidak menunjukkan adanya
simptom-simptom tersebut adalah individu yang normal.
c.
Abnormal menurut Konsepsi Penyesuaian Pribadi
Menurut konsepsi ini seseorang
dinyatakan penyesuaiannya baik bila yang bersangkutan mampu menangani setiap
masalah yang dihadapinya dengan berhasil. Dan hal itu menunjukkan bahwa dirinya
memiliki jiwa yang normal. Tetapi bila dalam menghadapi masalah dirinya
menunjukkan kecemasan, kesedihan, ketakutan, dst. yang pada akhirnya masalah
tidak terpecahkan, maka dikatakan bahwa penyesuaian pribadinya tidak baik,
sehingga dinyatakan jiwanya tidak normal.
d. Abnormal menurut Konsepsi Penderitaan/tekanan
Pribadi
Perilaku dianggap
abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu.
e.
Perilaku berbahaya
Perilaku yang menimbulkan bahaya
bagi orang itu sendiri ataupun orang lain dapat dikatakan abnormal.
f. Abnormalitas
menurut Konsepsi Sosio-kultural
Menurut konsepsi ini
seseorang dinyatakan penyesuaiannya baik bila yang bersangkutan mampu menangani
setiap masalah yang dihadapinya dengan berhasil. Dan hal itu menunjukkan bahwa
dirinya memiliki jiwa yang normal. Tetapi bila dalam menghadapi masalah dirinya
menunjukkan kecemasan, kesedihan, ketakutan, dst. yang pada akhirnya masalah
tidak terpecahkan, maka dikatakan bahwa penyesuaian pribadinya tidak baik,
sehingga dinyatakan jiwanya tidak normal
g. Abnormalitas
menurut Konsepsi Kematangan Pribadi
Menurut konsepsi
kematangan pribadi, seseorang dinyatakan normal jiwanya bila dirinya telah
menunjukkan kematangan pribadinya, yaitu bila dirinya mampu berperilaku sesuai
dengan tingkat perkembangannya.
h. Disability (tidak
stabil)
Hal ini menunjukkan
bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun kriteria
yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi
sekurang-kurangnya kriteria tersebut berusaha untuk dapat menentukan definisi
perilaku abnormal. Dan adanya kriteria pertimbangan sosial menjelaskan bahwa
abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya
serta waktu.
Kesimpulan
Dalam hal ini, dapat di simpulkan bahwa perilaku
normal dan abnormal dapat dipengaruhi oleh beberapa foktar baik eksternal
maupun internal. Perilaku ini dapat dibedakan sesuai dengan keadaan psikologis
seseorang baik dalam hal bertingkah laku pada dirinya sendiri maupun pada masyarakat
di lingkungannya.
Sehingga
dalam hal ini kita harus mengetahui sejauh mana batas – batas normal dalam
masyarakat serta menjadikan kita individu sosial yang dapat membedakan kedua
hal tersebut secara jelas dan dapat
mengendalikan diri kita dengan baik terhadap kondisi lingkungan dimasyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar